NILAI-NILAI

Nilai – nilai yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Tana Toraja harus diangkat dari nilai- nilai agama budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan, seperti yang tercermin dalam ungkapan dibawah ini :

  1. Tongkonan ditimba uainna artinya : uai berarti air dan ditimba artinya ditimba. Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan bagi warganya.
  2. Tongkonan dikalette’ tanananna : dikelette’ artinya dipetik, dan tanananna berarti tanaman. Yang mengandung arti bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan makanan bagi warganya.
  3. Tongkonan dire’tok kayunna artinya : dire’tok artinya ditebang, dan kayunna berarti kayu. Yang mengandung makna bahwa Tongkonan sebagai sumber bahan bangunan bagi warganya.
  4. Tongkonan di kumba’ litakna : litakna artinya tanah milik tongkonan pemanfaatannya berfungsi sosial dalam arti kata seluas – luasnya.
  5. Tongkonan dipoada’ ada’ na, dipoaluk alukna : ada’ artinya adat istiadat, aluk artinya agama (religius) yang mengandung makna bahwa segala tindakan, tata kelakuan, pola hubungan sosial, norma–norma dan aturan–aturan dalam kehidupan bersama bersumber dari Tongkonan yang dilandasi oleh nila-nilai keagamaan.


Disamping nilai–nilai budaya tradisional yang bersumber dari Tongkonan tersebut diatas, nilai yang dianut dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Tana Toraja juga dikombinasikan dengan cara pandang yang dianut secara global. Nilai berfungsi sebagai rambu–rambu/koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Nilai–nilai Tongkonan yang dikombinasikan dengan cara pandang secara global dan yang akan menjadi koridor dalam pelaksanaan semua aktivitas pembangunan di Kabupaten Tana Toraja sebagai berikut :

Karapasan.  Nilai ini bersumber dari falsafah Tongkonan yaitu usaha mempertahankan dan memelihara kedamaian, kerukunan dengan sesama warga masyarakat agar tetap tercipta kehidupan yang harmonis bahkan mengorbankan harta benda demi terciptanya keharmonisan seperti dalam ungkapan unnali melo (membeli kebaikan) atau la’biran tallan tu barang apa kela sisarak mira tu rara buku (orang rela mengorbankan harta bendanya, dari pada mengorbankan persaudaraan). Nilai ini juga mengandung makna bahwa segala rencana, kegiatan dan permasalahan dalam kehidupan bersama harus diselesaikan melalui kombongan (musyawarah) yang memberi kesempatan kepada semua anggota mengemukakan pendapat/aspirasi dalam menentukan arah, tujuan dan makna dari kehidupan bersama.
 

Kerja Keras, Jujur dan Bertanggung Jawab.  Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yang menempatkan kerja keras sebagai salah satu nilai utama. Proses mengumpulkan kekayaan harus dilakukan melalui usaha kerja keras mulai dari kecil sampai besar, seperti memiliki Ayam menjadi Babi, dari Babi menjadi Kerbau dan dari Kerbau menjadi sawah. Nilai  kerja keras ini terungkap dari ungkapan seperti  la’biran mamma’–mamma’ na iatu leppeng, la’ bimelo tu ma’dokko–dokko na iatu mamma’bang, mandu melo opa iatu sumalong–sumalong na iatu ma’dokko–dokko, apa la’bi’ melo iatu mengkarang na iatu sumalong–malong. Artinya lebih baik tidur–tiduran dari pada tidur nyenyak, lebih baik duduk dari pada tidur–tiduran, jauh lebih baik jalan–jalan dari pada duduk – duduk, tetapi lebih baik lagi bekerja dari pada jalan–jalan  atau lebih baik berbuat sedikit dari pada tidak berbuat sama sekali. Nilai kerja keras ini juga dilambangkan dalam lukisan pa’bareallo dan manuk londong – manukna Lapandek dalam ukiran Toraja’ matahari terbit dan Ayam Jago.  Nilai kerja keras ini harus dilandasi oleh kejujuran dan rasa tanggung jawab yang tinggi baik kepada sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan seperti dalam ungkapan maleko lolang dao kuli’na padang male ulleanni buntu unlambanni tasik kalua’. Osokko rakka’ sangpulomu anna to’do tu ma’pu’mu anna sa’dingngi nene’ Pong Tulak Padang diong Tokengkok na tunduiko mangando langngan Puang Matua anna ra’pak passakkena anna membura ra’ka’ sangpulomu. Apa lamukilalai iatu pa’barang–barangan lino dilese didudung. Suleko ma’tangke patomali umpellambi’ lamunan lolomu dio Tongkonan anna sende paiman lo’dok to kayangan to ma’rara buku to ma’rapu tallang, to sangka’ponan ao’ umpudi Puang titanan tallu tirindu batu lilikan dao langi’ ma’gulung – gulunganna.
 

Siangga’, Siporannu, Sipopa’di’.  Nilai ini berbasis pada falsafah Tongkonan yaitu menjalin kerja sama dan kebersamaan berdasarkan penghormatan terhadap keberadaan dan jati diri setiap anggota kelompok. Nilai ini diungkapan dengan longko’, siri’ : siri’ adalah perkara malu, dipermalukan, sedang longko’ adalah sikap yang dimotivasi oleh perasaan takut dan segan menyinggung perasaan orang lain, atau menyangkut harga diri seperti dalam ungkapan tae’na ditossok matanna bale artinya pantang mempermalukan orang didepan umum dan menghargai perbedaan pendapat.
 

Misa’ Kada dipotuo pantan kada dipomate, sangkutu’ banne sangboke amboran.  Ungkapan tersebut dan hal ini bermakna bahwa keberhasilan pembangunan hanya dapat diraih jika semua komponen yang ada menjalin hubungan yang kuat sehingga tercipta persatuan dan kesatuan dalam kebinekaan.
 

Tallu Bakaa, mencakup Kinaa / Manarang, Sugi’, BaraniKinaan / Manarang artinya bijaksana, mempunyai komitmen moralitas yang tinggi, berkepribadian, rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi, menjunjung tinggi, supremasi hukum dan memiliki kualitas intelektual.  Sugi’ artinya kaya dalam arti yang luas, kaya dalam pengetahuan, kaya dalam moralitas dan keimanan, kaya dalam materi.  Barani artinya berani mengambil keputusan, berani bertanggungjawab, terbuka, jujur, sportif baik dalam hubungan dengan sesama manusia, lingkungan dan kepada Tuhan.
 

Tallu Lolona, mencakup lolo tau, Lolo Tanaman, dan Lolo Patuoan.  Falsafah Tallu Lolona mencakup hubungan timbal balik antara makhluk ciptaan Tuhan yaitu manusia, tanaman, dan hewan yang harus terpelihara secara serasi dan seimbang yang memungkinkan terciptanya kelestarian lingkungan dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan.
 

Kebinekaan.  Menghargai kebinekaan sosial budaya masyarakat dan menyakini  bahwa keragaman merupakan kekayaan sosial budaya yang menjamin terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan.
 

Kesadaran Kosmologis.  Manusia adalah bagian integral dari alam semesta oleh karena itu harus senantiasa  menjaga interkoneksitas harmonis dengan alam semesta berdasarkan kepercayaan dan kecintaan kepada Sang Pencipta.