Pango-Pango

 

Kawasan Wisata Religi Buntu Burake dan Pango-Pango Terus Dikembangkan
 
 
Dua kawasan wisata di Kabupaten Tana Toraja, yakni kaswasan Religi Buntu Burake dan Pango-Pango, saat ini terus dikembangkan oleh Pemkab guna menarik wisatawan. 

Laporan: Agus Burhan 

Keindahan panorama alam Tana Toraja sebagai destinasi wisata berkelas internasional tidak diragukan lagi. Panorama alam ini merupakan aset pusaka dan budaya Bumi Lakipadada yang unik dan harus disyukuri. 
Demikian pula upacara 'rambu solo' atau pesta adat kematian dan pemakaman serta arsitek rumah tongkonan yang tidak ada duanya di dunia merupakan ikon wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Toraja. 
Hal ini pulalah yang mendorong UNESCO menetapkan pariwisata Toraja masuk dalam daftar World Heritage dari 23 situs ternama dunia. 
Budaya Toraja dinilai sebagai sesuatu yang unik, sehingga pengembangannya ke depan memerlukan suatu perencanaan yang bercirikan dimensi dan lingkungan kearifan lokal Toraja yang berorientasi pada peningkatan ekonomi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat mandiri dan berkusalitas. 
Meski demikian, pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Tana Toraja harus tetap terjaga dan konsisten. Hal ini perlu sebuah komitmen pemerintah daerah dalam membuat program perencanaan diversifikasi produk pariwisata, utamanya di wilayah pengembangan kawasan wisata unggulan. 
Seperti dijelaskan Sekkab Tana Toraja, Enos Karoma, kawasan wisata Religi Buntu Burake, kurang lebih dua kilometer dari Kota Makale, selain memiliki keindahan panorama alam, juga ke depan di puncak Buntu Burake akan dibangun salib raksasa dan pohon Natal. 
Rencana pembangunan itu saat ini dalam tahap perencanaan. Nanti, untuk mencapai puncak gunung tinggi tersebut perlu dibuat anak tangga hingga ribuan yang diambil dari bahasa asli Toraja “Sonda Pitunna” atau serba tuju. 
Dikataka Enos Karoma, pengembangan kawasan wisata Buntu Burake arah Timur Kota Makale sebagai obyek wisata religi, berpeluang dimanfaatkan para inverstor atau pemodal menanamkan sahamnya karena merupakan ikon pariwisata Kota Makale. Sebab, dilengkapi dengan gua dan kuburan orang terdahulu maupun kehidupan berbagai mamalia monyet berekor panjang dengan julukan “Lovely Hill” atau bukit kasih. 
Demikian pula di arah Selatan Makale, terdapat perbukitan Pango-pango yang dihiasi dengan panorama alam yang indah sekaligus tempat berburu. Sesuai tata ruang pengembangan kepariwisataan Kabupaten Tana Toraja, di kawasan wisata unggulan Pango-pango akan dikembangkan obyek pariwisata agro. Sebab, kesuburan alamnya cocok untuk tanaman holtikultura dan komoditas unggulan. 
Sebagai persiapan pengembangan agro wisata Pango-pango, sambung Enos Karoma, dimulai dengan peningkatan akses jalan rabat beton untuk mempermudah para wisatawan mencapai lokasi tersebut. 
Ditambahkan Kadis Pariwisata dan Budaya Tana Toraja, Lexianus Lintin, di wilayah kawasan wisata agro Pango-pango akan dibangun fasilitas penunjang seperti restoran, areal menunggang kuda dan sepeda gunung, lokasi perkemahan, serta toko sovenir maupun sarana ibadah. 
Sementara Alexander Pantan Rante Allo, Legislator DPRD Tana Toraja dari daerah pemilihan Mengkendek, mengemukakan, getolnya pemerintah daerah dalam mengembangkan obyek pariwisata Tana Toraja yang sempat mati suri akibat Bom Bali, melakukan pembangunan pariwisata merata di semua kecamatan, kawasan desa wisata Tumbang Datu dan Bebo juga tidak luput dari perhatian pemerintah. 
Sebab, di kawasan desa wisata tersebut masih terdapat rumah adat Tongkonan Karuaya, Tondon Bebo dan lapangan upacara adat religi tua. 
Selain itu, kata Alexander, di kawasan desa wisata Tumbang Datu Dan Bebo juga terdapat peninggalan sejarah benteng pertahanan purbakala di wilayah To`Sendana atau Pata` Padang yang dijelmakan sebagai persatuan masyarakat Toraja dengan semboyan “misa kada diputuo pantan kada diomate”.